/ media

Potret Budaya dan Media Kita

Bagaimana keadaan kebiasaan dan media kita ?

Potret sederhana sebuah budaya. Satu gambar tak jarang memuat banyak makna. Tidak hanya gambar bahkan sebuah cuplikan video pun tak jarang memuat banyak makna. Video pada dasarnya adalah kumpulan gambar berpadu hingga membentuk sebuah pola objek yang berubah-ubah. Gambar dapat menimbulkan pro dan kontra sesuai dengan tingkat pemahaman masing-masing. Sekali lagi tingkat pemahaman dan bukan tingkat pendidikan.

Mari kita saksikan gambar berikut. Apa yang muncul pertama kali di benak kita tatkala gambar itu tampak?

tumblr_inline_nsn4herqjm1rram8g_500

Bagi sebagian orang gambar tersebut tidak menampakkan apapun atau hanya sebatas gambar biasa tanpa makna. Akan tetapi bagi sebagian yang lain gambar diatas dapat bermakna sangat mendalam. Saya mengambil gambar itu ketika berada disebuah masjid di Jogja. Saya yakin mereka yang pernah ke masjid ini sangat paham ini masjid apa. Namun ijinkan saya berkomentar, bukan terhadap masjidnya tapi pada tingkah polah sebagian mereka yang memanfaatkannya.

Ketika gambar itu muncul dalam pandangan saya maka terceletuk dalam hati. “Inilah Sebuah Potret Budaya Sebagian Warga Kita”. Salahkah saya?, saya tidak tahu tapi dalam hati saya mengatakan demikian. “Kekeliruan” mungkin datang dari didikan orang tua saya yang selalu menanamkan kebersihan sedari kecil sehingga terpatri dalam diri saya pribadi yang kemudian saya coba tularkan pada diri anak-anak saya. Perhatikan gambar selanjutnya dan sampaikan apa yang muncul dalam benak kita masing-masing.

tumblr_inline_nsn4hqjj7a1rram8g_500

Baiklah, saya kira cukup untuk intro karena dirasa tidak sesuai dengan judul. Gambar diatas hanya merupakan pemantik sebuah tulisan yang ingin saya sampaikan. Berapa banyak diantara kita (tidak terkecuali dengan saya) yang pernah terenyuh atau merasa kasihan dan simpatik terhadap sebuah gambar seorang anak kecil yang tertidur di sebuah pusara yang ternyata gambar itu adalah hoax?. Belum lagi gambar-gambar lainnya yang tak jarang ditambahkan dengan sebuah kisah-kisah yang dapat membuat haru biru. Terlepas benar tidaknya kisah-kisah yang disampaikan ada satu hal yang kurang dari dalam diri kita. Tidak terbiasa mengecek sebuah berita dan informasi yang datang. Saya pernah menyampaikan terkait informasi dalam sebuah tulisan di Kita dan Informasi.

Saya masih ingat betul beberapa gambar-gambar yang dapat memicu ketegangan hadir di beranda saya. Salah satu contoh adalah pelarangan jilbab di Bali ?. Ada yang masih ingat ?. Kasus pelarangan itu dilakukan oleh sebuah supermarket di Bali. Saya yang pernah tinggal dan besar di Bali tentu merasa aneh jika memang ada pemberlakuan demikian. Maka saya segera menghubungi beberapa kolega saya disana sekaligus menghubungi langsung supermarket yang bersangkutan via telepon untuk mengecek. Ternyata hal itu tidak benar dan ada miskomunikasi. Hal ini tentu sangat disayangkan baik yang membuat berita awal maupun mereka yang menyebarkan dengan tidak bertanggungjawab. Lebih-lebih kita yang tidak mengetahui kondisi di lapangan cenderung mudah menghakimi hanya sebab sebuah berita yang belum tentu jelas kebenarannya.

Lebih berbahaya lagi adalah media-media kita yang cenderung ikut mendukung dengan menyebarkannya tanpa teliti terlebih dahulu. Jika ada berita insiden pemukulan maka tidak akan menjadi ramai tapi tengoklah jika insiden pemukulan itu dilakukan oleh seorang ustadz maka tampaklah menjadi sebuah berita besar yang perlu disebar dengan seluas-luasnya apalagi seorang muslim dengan simbol-simbol Islam di dalamnya. Pola-pola pemikiran seperti inilah yang mengakibatkan seorang muslim tidak lagi bangga dengan atribut keislamannya atau minimal minder akibat informasi-informasi yang disebar dengan cara-cara keliru. Saya tidak mengatakan semua media karena ada media-media yang berusaha untuk tetap inshof (pertengahan). Lebih mengherankan lagi apabila di dukung oleh orang-orang yang tidak mengerti kondisi di lapangan. Jangan diharapkan untuk sekedar cek dan ricek yang penting share dan share dan tambahkan komentar negatif. Selesai sudah. Saya tertarik sebenarnya dengan pemaparan Pepih Nugraha dalam bukunya Citizen Journalism. Beliau menyampaikan pentingnya mempunyai etika dalam menyampaikan sebuah berita terlebih lagi bagi seorang pewarta warga (sebutan untuk warga biasa yang menyampaikan berita).

Mari kita tengok contoh kasus lain yang cukup ramai diperbincangkan di media sosial, BPJS. Dari kalangan bawah sampai kalangan atas semua berbicara dan ramai mendiskusikan dan saya faham arahnya kemana dari opini yang menyebar. Berusaha untuk menghancurkan kredibilitas MUI, maka tengoklah komentar-komentar yang ada. Saya tidak akan berbicara halal haramnya BPJS tapi hendaknya kita menahan lisan-lisan kita dari berkomentar jika kita tidak memahami permasalahan yang ada. Apa saya tahu ?. Saya tidak tahu justru itu saya diam dan mari kita tunggu pembahasan dari MUI karena MUI adalah perwakilan dari ulama yang ada di Indonesia. Di dalamnya ada perwakilan dari NU dan Muhammadiyah serta ormas lainnya. Sungguh sangat mengherankan kita lebih berani menyatakan halal dan haram sesuatu padahal kita sama sekali tidak memiliki background keilmuan di bidang muamalah atau semisalnya.

Dan yang disayangkan dan tidak mengherankan sekali lagi tidak mengherankan adalah peran media yang mem-blow-up informasi ini secara berlebihan. Solusi yang terbaik bagi kita adalah menahan lisan-lisan kita terhadap permasalahan yang kita sendiri tidak memahaminya. Sebenarnya dalam masalah-masalah yang umum terlebih lagi terkait permasalahan yang kita sama sekali tidak pernah mendapatkan ilmu di dalamnya kita harus menahan diri.

عن أبي هريرة رضي الله عنه، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «من كان يؤمن بالله واليوم الآخر، فليقل خيرًا أو ليصمت، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر، فليكرم جاره، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر، فليكرم ضيفه» (رواه البخاري، ومسلم)

“Dari Abu Hurairah rodhiyallohu anhu, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan Hari Akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan Hari Akhir, maka muliakanlah tamunya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan Hari Akhir, maka berbicaralah yang baik atau diamlah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Semoga Alloh mengampuni dosa-dosa kita semua bersebab kelalaian dan lisan-lisan kita.

Andrey Ferriyan
PMD3, 17 Syawal 1436 - 2 Agustus 2015