/ pemikiran

Multiperspektif, Sebuah Lintasan Pemikiran

Sebuah sudut pandang.

Saya mencoba mencari makna dari multi perspektif ini dalam kamus bahasa Indonesia yang terdapat di internet tapi sepertinya saya tidak menemukannya. Bisa karena permasalahan update atau permasalahan teknis lainnya. Baiklah saya mencoba untuk mengambil dari Oxford Dictionary, multi perspective diambil dari dua buah kata multi yang berarti much, many atau dalam bahasa Indonesia bermakna banyak. Kemudian perspective yang berarti a particular attitude towards or way of regarding something; a point of view dalam arti bebasnya bermakna sudut pandang. Kedua kata ini apabila digabungkan bisa bermakna sudut pandang yang banyak atau sebuah sudut pandang yang bisa dilihat dari berbagai sisi.

Saya tidak bermaksud membahas makna multiperspektif dari sisi bahasa Indonesia oleh karena itu jika makna diatas keliru maka silakan saya di koreksi. Saya hanya ingin membahas sebuah sudut pandang. Saya sebenarnya sudah cukup lama ingin membahas hal ini akan tetapi selalu tertunda dan urung untuk melanjutkan karena beberapa sebab.

Kali ini sudah saatnya bagi saya untuk membahasnya agar tidak menjadi kram otak karena disimpan atau hilang karena tertiup angin ilusi. Dalam sudut pandang saya, pandangan yang mengatakan aturan Islam bisa dilihat dari berbagai perspektif adalah keliru. Jika itu hanya sebuah pandangan yang tidak berimplikasi jadi aturan hukum baru mungkin… sekali lagi mungkin saja masih dibolehkan… saya tidak punya otoritas untuk itu. Hanya saja jika kemudian hal ini berimplikasi muncul sebuah pendapat yang ganjil maka bisa berbahaya. Ganjil yang bagaimana ?. Mari kita tengok ayat berikut ini.

** وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّـهُ فَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ**
“ Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (QS. Al-Maidah[5] : 44)

Sahabat, perhatikanlah potongan ayat berikut. Jika kita biarkan tiap-tiap orang untuk berpendapat dan memiliki perspektif sendiri-sendiri dalam memahaminya maka otomatis kita juga harusnya konsekuen ketika ada kelompok yang menghalalkan darah saudaranya dengan bersumber pada ayat di atas. Seram ?. Ya begitulah. Apakah kemudian kita katakan yang keliru adalah ayat Qurannya ?. Kalau ini jelas sudah kebablasan apalagi sampai mengatakan sudah tidak relevan lagi dengan zaman. Tentu saja hal ini tidak dapat diterima. Menghukumi sesuatu dengan mengambil dari ayat Al-Quran ada ilmunya semuanya ada aturannya. Ada jenjang untuk mempelajarinya. Tidak bisa sembarangan kita main berpendapat.

Pepatah arab mengakatan “likulli ro’sun ro’yun” yang dalam arti bebas setiap kepala mempunyai pendapat. Jika kita serahkan aturan-aturan hukum Islam ini kepada orang yang tidak memiliki keilmuan di dalamnya maka bisa hancur berantakan semuanya. Maka jangan heran ketika ada yang memiliki pendapat bahwa homoseksual itu dibolehkan karena mentafsirkan sendiri ayat Al-Quran. Sungguh sangat berbahaya.

Jika semuanya diberikan otoritas sendiri-sendiri maka tidak ada lagi yang namanya standar kebenaran dikarenakan kebenaran adalah relatif bagi pribadi masing-masing. Maka masuklah ke dalam paham relativisme. Sudah tidak ada lagi yang namanya standar kebenaran. Kalau sudah begini buat apalagi ada aturan ?. Kita bebas melakukan apa yang kita inginkan bukan ?. Naudzubillah.

Sungguh masih lebih baik kita mengatakan bahwa kita belum mampu melaksanakan sebuah aturan dan kita berusaha untuk bisa menjadi lebih baik dan bisa mengamalkannya daripada kita buang aturan itu hanya karena tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Sahabat, marilah kita pelajari ilmu agama ini sebaik-baiknya dan ambillah ilmu agama ini dari ahlinya. Merekalah yang memiliki keilmuan dan spesialisasi di bidangnya. Tak perlu kita mengikut pendapat-pendapat yang nyeleneh. Saya teringat sebuah pepatah arab, “Bul ‘alaa zamzam Fatu'raf” yang dalam arti bebasnya “kencingilah air zam-zam maka kamu akan terkenal”. Mereka yang ingin terkenal biasanya membuat sebuah hal yang aneh-aneh.

Oh ya bahkan tulisan ini pun adalah buah sudut pandang yang bisa ditolak dan dibuang dan itu sah-sah saja kalau kita mengikut cara berpikir yang sama.

Anyway, semoga kita dikaruniai oleh Alloh keistiqomahan untuk terus belajar dan menjalankan syariat Islam ini dengan sebaik-baiknya.

  • di jalan

Andrey Ferriyan
Yokohama, 12 Juli 2016