/ hati

Menira Salju

Apa dan bagaimana menira salju yang bisa kita lakukan ?

Istilah nira dalam kamus besar bahasa Indonesia bermakna air manis sadapan dari mayang enau, nyiur, dan sebagainya. Dalam artikel ini saya tambahkan imbuhan me- sehingga menjadi menira. Bagaimana cara yang paling manis menikmati sebuah momen indah bersama salju. Menira tidak saja menikmati akan tetapi menikmati dan merasakan, sebuah akronim yang disingkat menjadi menira. Bagaimana menira salju ?, ijinkan saya menyampaikan pengalaman ini.

Musim dingin kali ini sedikit berbeda dengan tahun lalu. Tahun lalu 2017 datangnya salju lebih awal namun ketebalan dan keindahannya buat saya minimal tidak terlihat asli sebagaimana sekarang. Harap maklum karena di Indonesia hal yang seperti ini tidak ada. Dan turunnya salju kali ini di daerah Kanagawa dan sekitarnya juga lebih lebat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Anak-anak terlihat senang dengan hamparan salju yang luas dan indah. Sekalipun keindahannya menawan namun tetap perlu hati-hati karena daerah saya termasuk yang tidak didesain untuk menerima terpaan salju yang lebat. Paling tidak kita harus siap sedia sepatu boot, sarung tangan dan semisalnya.

photo_2018-01-27_20-54-19

Ada hal yang menarik sebenarnya yang bisa kita ambil pelajaran dari sekadar menikmati salju. Saya teringat sebuah doa iftitah yang diriwayatkan oleh Bukhari no hadits 702 yang dikutip dari Ensiklopedi Hadits Kitab 9 Imam versi Android,

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

"Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju dan es yang dingin"

Saya tertarik dengan salju. Kenapa dipilih kata salju ?. Apa yang menarik dengan salju ?. Ternyata karakteristik salju cukup menarik.

Pertama, salju dapat mendinginkan suasana. Sebagaimana kesalahan dan dosa akan diganjar dengan api neraka yang panas, maka tentunya taubat dari dosa dan menyesali akan perbuatan dosa ibarat menyucinya dengan air dan salju yang dingin. Kedua, salju berwarna putih bersih dan mudah sekali tercemar dan keruh. Ibarat hati manusia, jika sekali berbuat kemaksiatan maka akan muncul noktah hitam dan noktah itu akan semakin banyak seiring dengan banyaknya perbuatan maksiat kita. Jika dibiarkan niscaya hati akan menjadi hitam legam dan sulit sekali menerima kebenaran.

Karakteristik ketiga, kristal dari salju memiliki berbagai macam bentuk yang indah dan sedap dipandang. Bentuknya yang transparan layaknya cermin sangat mirip dengan gambaran hati manusia. Teringatlah akan sebuah firman Alloh sebagai berikut:

(وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ ﴿٨٧﴾ يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ﴿٨٨﴾ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّـهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ﴿٨٩

"Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan. (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (QS. Asy-Syuaraa (26) : 87-89)

Istilah سَلِيمٍ dalam ayat diatas bisa berarti "bersih" atau juga "selamat". ​Syaikh Ahmad Farid dalam kitabnya Manajemen Qolbu Ulama Salaf menyebutkan bahwa hati yang selamat adalah hati yang bebas dari syahwat (kesenangan) yang bertentangan dengan perintah dan larangan Alloh dan bebas dari segala macam syubhat yang berlawanan dengan firman Alloh. Syahwat dan syubhat bentuknya bermacam-macam. Dalam tulisan ini saya ingin menitikberatkan pada syahwat. Gambaran yang muncul ketika syahwat disebutkan tidak berarti terkait dengan ketertarikan pada lawan jenis akan tetapi bentuk syahwat atau kesenangan ini bisa tengok dalam ayat berikut:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّـهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)" (QS. Ali-Imran (3) : 14)

Syahwat dalam ayat Ali-Imran ayat 14 disebutkan tidak hanya ketertarikan pada lawan jenis akan tetapi juga anak-anak, harta, kendaraan, binatang ternak dan sawah ladang. Kita yang banyak bergulat dengan dunia materi perlu sesekali untuk kembali sejenak untuk beristirahat dan kembali berpikir untuk apa kita diciptakan di dunia ini. Tidak ada yang salah dengan pencarian materi bahkan itu menjadi suatu yang wajib terutama bagi mereka sebagai kepala keluarga. Namun hal ini menjadi masalah tatkala kita sibuk dengan dunia hingga akherat terlupakan.
Saya sangat merasakan kenapa sangat penting bagi seorang penuntut ilmu (baik ilmu syar'i dan dunia) untuk tetap belajar tazkiyatun nafs. Dengan belajar tazkiyatun nafs kita akan membersihkan hati kita dari materi-materi dunia yang telah merekat lengket dan begitu banyak. Salah satu indikasi yang bisa kita tengok adalah hambarnya ibadah kita, rasa malas yang mulai muncul, ketergesaan dalam beribadah dan tidak menikmatinya. Firman Alloh yang terhampar dalam mushaf jika sudah mulai berdebu menjadi tanda-tanda yang lain. Terlalu larut dalam perkara dunia hingga terkadang lupa dengan mengingat Alloh juga menjadi salah satu indikasi.

photo_2018-01-27_20-53-51

Maka berhentilah sejenak dari semua urusan yang ada. Duduk sejenak dan merenungi yang sudah kita lakukan hingga saat ini. Kembali untuk memperbaiki niat kita. Untuk apa kita diciptakan ?. Apa yang akan kita siapkan untuk menghadap Alloh kelak ?. Kembalilah mendekat kepada Alloh dengan membuka lembaran mushafnya yang telah lama kita tinggalkan. Kembalilah menata hati untuk mendekat kepada Alloh dengan mulai merutinkan dzikir pagi petang kita, solat sunnah kita dan doa. Dan tak kalah penting adalah untuk senantiasa menghadiri majelis ilmu dimanapun kita berada. Semoga dengan wasilah dan usaha yang kita lakukan, hati kita dapat kembali putih layaknya salju. Demikian kiranya menira salju cara saya. Semoga dapat bermanfaat

*remah-remah salju masih terhampar di bumi kanagawa

Yokohama, 27-01-2018

Andrey Ferriyan