Mendulang Hikmah di Bulan Penuh Berkah

Bagaimana mendulang hikmah di bulan Ramadhan bulan yang mulia.

“Aku kufur nikmat”, ujarnya kepadaku. Siapa yang mengira sebuah diskusi ringan diantara kami berdua dapat menjadi salah satu pengingat akan nikmat-nikmat Alloh yang telah tercurah. Sudahkah kita bersyukur ?. Tidak !, yang tepat sudahkah aku bersyukur ?. Tiba-tiba teringat dengan ucapan guruku jika engkau melihat amal kebaikan janganlah memandang bahwa diri kita sudah melaksanakannya dan memandang rendah orang lain yang belum melaksanakannya sebaliknya jika itu adalah amal keburukan maka lihatlah kepada diri kita terlebih dahulu sebelum melihat kepada orang lain. Jangan-jangan amalan kejelekan itu ada pada diri kita.

Sahabatku kembali berujar bahwa dirinya belum satu lembar pun mushaf yang dapat terbaca maka saat itu juga kata hatiku berucap, “Kalau aku sudah berapa lembar ?”. Kemudian serangkaian pertanyaan bertubi-tubi muncul bagaimana dengan solat malamku ?, solat dhuhaku ?. Jangan sampai aku tidak bersyukur kepada nikmat yang telah Alloh berikan yang tak terbilang. Makanan yang kita santap kala berbuka, minuman yang kita teguk untuk menghilangkan dahaga merupakan salah satu kenikmatan. Sahabatku kembali menyampaikan surah Ar-Rahman dan tentang sebuah nikmat. Aku hanya teringat firman Alloh,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah [2] : 152)

Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih banyak wahai sahabat. Semoga Alloh memberikan karunia dan hidayahnya kepadamu dan memberikan sebuah jalan keluar dari segala kesulitan. Engkau telah berbagi cerita tentang kehidupan. Namun Alloh berkehendak cerita itu dapat pula berkesan dan mengingatkanku kembali untuk tetap terus berharap dan berdoa serta selalu bersyukur kepada-Nya. Dalam berbagai kesempatan Alloh selalu mengingatkan kita dan itu membuktikan bahwa Alloh sayang kepada kita. Mendapatkan hidayah itu tidaklah mudah akan tetapi menjaganya juga tak kalah sulit.

Di bulan penuh rahmat ini tak ada salahnya kita mengkaji kembali kitab-kitab tazkiyatun nafs. Sudah terlalu banyak dosa kita dan sudah saatnya kita banyak-banyak bertaubat kepada Alloh. Khotib Jumat siang itu menyitir ayat yang bisa membuat renungan bagi diriku pribadi.

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّـهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا

كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid [57] : 16)

  • selepas berbuka

Andrey Ferriyan

Yokohama, Jumat, 5 Ramadhan 1437 - Jumat, 10 Juni 2016