Kisah perjalanan singkat mengunjungi masjid Merah di Srilanka.

Kita sudah mengenal atau sering mendengar yang namanya Masjid Biru (The Blue Mosque) di Turki maka tidak ada salahnya kita mengenal juga yang namanya Masjid Merah (The Red Mosque) atau disebut juga Jami Ul-Alfar atau Samman Kottu Palli.

Masjid Merah merupakan salah satu masjid tertua di Srilanka. Disebutkan bahwa pembangunannya dimulai pada tahun 1908 dan selesai pada tahun 1909. Disebut dengan Masjid Merah dikarenakan perpaduan warna merah dan putih tentunya dengan dominasinya adalah warna merah. Tiap-tiap masjid memiliki cerita dan ciri khas tersendiri. Sebagaimana pernah saya ulas sedikit tentang Masjid Camii Turkey semua masjid yang pernah dibangun ternyata memiliki keunikan.

Masjid ini cukup dekat dengan wilayah tempat saya menginap untuk wisata sehingga bisa ditempuh dengan jalan kaki. Salah satu tampilan masjid Merah bisa dilihat pada Gambar 2 berikut.

Gambar 2. Gerbang utama (courtesy of Alwan Mamen)

Gambar 2 diatas adalah gerbang utama masjid. Untuk yang mau beribadah biasanya akan diarahkan untuk menggunakan gerbang lainnya. Kemudian di dalam dan terletak di belakang masjid terdapat bak air sebagai tempat wudhu. Tempat wudhu yang khas dengan menggunakan bak air yang besar mungkin sudah pernah dirasakan bagi mereka yang pernah mondok di pesantren tradisional di Jawa.

Suasana interior dari masjid ini juga cukup indah dengan sisi mihrab yang khas. Mihrab jika di Indonesia adalah tempat imam (Gambar 3). Untuk solat lima waktu ada hal yang sedikit berbeda terutama bagi jamaah pria dan wanita. Untuk melaksanakan solat bagi jamaah wanita hanya diperkenankan mulai jam 09.00 pagi. Kami tidak tanya alasannya.

Gambar 3. Mihrab dan interiornya (courtesy of Alwan Mamen)

Secara fiqh, yang pernah saya pahami dari hasil diskusi dengan seorang Syaikh Syria bahwa Srilanka ini termasuk yang menganut mazhab Syafii sementara sebagian dari Syria dan Masjid Camii Turkey menganut mazhab Hanafi.  Sehingga kita bisa temukan amaliah seperti Qunut subuh dan lain sebagainya dari Syafiiyah ini pada Masjid Merah sebagaimana penganut Syafiiyah di Indonesia.

Gambar 4. Jamaah masjid Merah (courtesy of Alwan Mamen)

Berbicara Srilanka sebenarnya cukup banyak sejarah yang telah diceritakan dan tidak jarang sejarah yang tercatat termasuk sejarah yang kelam seperti Black July dan semisalnya. Ketika mendarat di Srilanka yang terasa justru tidak asing. Saya melihatnya banyak kemiripan dengan suasana di Jawa. Dari mulai daerah-daerah pembangunannya, wilayahnya, baliho-baliho yang berjajar, "keruwetan" transportasinya, dan lain-lainnya. Intinya, kesan yang kita lihat tidak akan asing sebagaimana kita ketika datang ke negeri lain. Tidak banyak yang bisa kita saksikan di daerah ini karena waktu yang terbatas.

* baru bisa upload karena keterbatasan sumber daya

Srilanka, 4 Agustus 2019
Andrey Ferriyan