/ dakwah

Cinta dan Loyalitas

Sebuah kisah cinta dan loyalitas.

Suatu ketika saya diajak oleh salah seorang peneliti untuk makan di salah satu tempat yang populer di kawasan Tokyo. Sebagaimana kita ketahui tidak semua makanan dan minuman itu halal dan mereka pun tahu sehingga saya hanya diberikan yang halal yang bisa saya makan.

Sang peneliti kemudian bercerita bahwa dia pernah membaca sebuah buku yang mengisahkan tentang seseorang yang sangat terkenal di bidang olah raga. Orang yang ahli di bidang olah raga itu seorang Yahudi dan tentu sahabat perlu ketahui bersama bahwa seseorang tidak bisa dikatakan beragama Yahudi apabila dia tidak beragama dan bersuku / keturunan Yahudi murni. Jadi jika bapaknya Yahudi dan ibunya bukan seorang Yahudi maka dia tidak bisa disebut beragama Yahudi.

Dikisahkan suatu ketika orang Yahudi ini diundang oleh kawan-kawannya ke pesta perayaan yang besar. Kawan-kawannya tidak semua Yahudi tapi paham bahwa orang yang diundangnya adalah Yahudi yang taat yang tidak makan daging babi. Singkat cerita dalam pesta itu sebuah babi gemuk bakar terhidang. Si Yahudi ini ditanya mau makan apa ?. Dijawablah dia mau makan DAGING AYAM itu sembari menunjuk ke arah daging babi yang terhidang. Maka kawan-kawannya pun terkejut dan tertawa. Kisah selesai disini. Sang peneliti yang bercerita kisah ini tertawa dan sayapun hanya tersenyum. Kisah ini nyata hanya saja detail kisah dari buku tidak saya dapatkan.

Sang peneliti tersebut tentu saja bercerita bukan dalam rangka mengejek agama siapapun. Dia bercerita karena kejadian itu lucu dari cara pandang dia dan dalam kisahnya disebutkan asal kita tidak tahu itu halal atau haram atau makanan itu bisa atau tidak bisa untuk diimakan santai saja cukup langsung santap tanpa perlu banyak tanya. Kisah ini selesai sampai disini.

Kisah lain adalah kawan saya seorang India yang beragama Hindu. Dia adalah seorang vegetarian. Karena saya tidak pernah belajar teologi Hindu saya tidak tahu apakah semua orang yang beragama Hindu itu vegetarian. Saya yang besar dan lama tinggal di Bali dan nyaman disana melihat justru agama Hindu itu bisa makan daging apa saja kecuali daging sapi. Kawan saya ini setelah 1 tahun lebih akhirnya menyerah jadi vegetarian dan akhirnya bisa makan apa saja. Saya tidak mengejeknya dan itu hak dia.

Suatu ketika saya undang kawan saya yang India di acara buka puasa bersama di kampus, kawan saya yang India ini hadir dan mengungkapkan sudah tidak percaya lagi dengan agama. Saya hanya tersenyum dan kita bicara panjang lebar tentang studi, agama dan lain sebagainya.

Sahabat, setiap orang memiliki keyakinan masing-masing, pendapat masing-masing dan kita wajib menghormatinya. Bentuk toleransi kita adalah membiarkannya dan tidak boleh menghinanya. Saya senang bertemu dengan banyak orang dengan banyak bahasa dan keyakinan. Tentu saja bukan untuk akulturasi agama dan menganggap semua agama adalah benar. Dalam syariat Islam dalam tataran aqidah ada yang sudah tidak bisa tawar menawar lagi. Kepada siapa al-wala (loyalitas) dan al-baro (berlepas diri) ditujukan. Pembahasan al-wala dan al-baro detail tidak akan saya bahas disini.

Dengan bertemu banyak orang dari berbagai negara, bahasa yang berbeda dan keyakinan yang berbeda menuntut saya (secara pribadi) untuk bisa fleksibel dari sisi muamalah dan dakwah. Disini menjadi penting dan perlunya fiqh dakwah dan untuk terus belajar.

Bentuk cinta kepada Alloh dan menjadikan Nabinya satu-satunya petunjuk dan jalan kehidupan membuat tenang dan bahagia. Maka jangan heran dengan saudara-saudara kita yang ada di Palestina, Suriah atau negara manapun yang sedang di dera konflik. Dentuman rudal dan desingan peluru tidak membuat mereka meninggalkan agama ini karena satu…. CINTA dan LOYALITAS. Apalagi cuma sekedar makanan. Bukan dalam rangka merendahkan tentunya. Ini bukan bentuk cinta antara sepasang kekasih tapi lebih dari itu. Jika rasa cinta dalam hati ini sudah timbul, bersemi dan berkembang besar tentu kita akan menuruti apa saja kata-kata dari yang kita cintai. Bahkan untuk alasan yang mungkin buat sebagian orang tidak logis. Kecintaan dan loyalitas akan membuat sebuah ikatan yang tak terpisahkan kecuali dengan kematian.

Semoga kita selalu dikaruniai terus rasa cinta ini dan istiqomah hingga ajal menjemput. Aamiin.

SHOWA BYOIN, 8 Juli 2017

Andrey Ferriyan