(sumber gambar: hiveminer.com)
Berhenti sejenak untuk mengevaluasi diri.

Beberapa pekan ini mencoba untuk kembali mengingat sebuah visi dan misi yang pernah dituliskan beberapa tahun silam. Seorang guru mendiktekan dan meminta kami untuk menuliskan target hidup. Seorang manusia sudah semestinya punya target hidup yang akan dicapai. Apa pasal ?, karena target hidup itu akan menjadi goal kita ke arah mana kita akan melangkah dan ke arah mana saja selayaknya kita untuk membuang segala hal yang bersifat remeh pada posisi kita.

Boleh jadi apa yang remeh temeh pada pandangan kita menjadi suatu yang berharga pada pandangan orang lain. Tapi itu tidak penting karena kitalah yang menjalani hidup ini dan bukan orang lain. Maka dengan memiliki sebuah visi misi dan goal yang jelas akan mudah kiranya kita untuk mengambil keputusan.

Tak lama lagi beberapa target jangka panjang yang pernah kami torehkan dalam sebuah kertas itu akan tercapai insya Alloh bi idznillah. Semua ini tentu saja berkat karunia dari Alloh yang begitu besar pun tak jauh dari doa yang mungkin terus terpanjatkan dari kedua orang tua. Terutama ibu kami yang telah mendahului kami menemui Rabb-nya. Maka semua kemudahan, langkah kaki yang menapak dengan lancar bisa jadi karena sebab kedua orang tua.

Apabila target jangka pendek, menengah, dan panjang kita telah tercapai dengan ijin Alloh, maka sudah seyogyanya kita atur kembali target apa yang akan kita kejar selanjutnya. Cita-cita apa yang akan kita raih selanjutnya. Saya berbicara dengan bentuk jamak, yakni saya dan istri tercinta serta anak-anak yang kami sayangi. Semuanya sudah mendapatkan arahan ke depan. Apa yang harus dilakukan. Apa yang ingin kami lakukan selanjutnya. Ya semua itu adalah sebuah rencana akan tetapi rencana yang kami buat itu kami biasa diskusikan bersama. Baik di kala petang saat makan atau ketika taklim atau ketika bincang-bincang ringan. Setelah rencana itu sekiranya sudah cukup matang maka kami bulatkan dan teruskan dalam doa.

Melalui tulisan singkat ini kami mencoba untuk berhenti sejenak, merenungi, dan melihat ke belakang apa yang telah dan sudah dilakukan. Mencoba untuk mengatur nafas karena apa yang akan kita lakukan selanjutnya sebaiknya dan sudah sepantasnya adalah sesuatu yang lebih besar lagi. Itu yang saya yakini. Saya teringat sebuah kisah dahsyatnya cita-cita dari sahabat Nabi. Mereka adalah Abdulloh ibn Zubair, Mus'ab ibn Zubair, dan Abdul Malik ibn Marwan.

Mereka bertiga memiliki obsesi dan cita-cita. Maka ketahuilah, realita itu tidak akan jauh dari cita-cita. Apapun cita-cita itu. Maka sebaiknya kita berhenti sejenak dan merenungi diri, sejauh mana cita-cita itu ada. Sejauh mana kita akan berusaha untuk merealisasikannya. Tak perlulah kita merasa rendah, karena semua orang bebas dan berhak memiliki cita-cita. Tuliskan cita-citamu dan sampaikanlah kepada Sang Pengabul Cita-Cita. Selanjutnya kita tinggal terus beramal. Semoga apa yang kita cita-citakan dapat tercapai semua dan semoga apa yang kita cita-citakan juga tak jauh dari menolong sesama manusia dan juga tak kalah penting menolong agama Alloh.

*h-3 sembari menemani kawan ujian tertutup

Fujisawa, 1 Agustus 2019

Andrey Ferriyan